Minggu, April 05, 2020

Adonan Genetik dalam Ungkapan Pribumi-mu

Ekskavasi di Mallawa, oleh Tim Balai Arkeologi Makassar

Siapa leluhur masyarakat Sulawesi. Jika kau bertanya seperti itu, maka beberapa orang akan menepuk dada sambil mengatakan sebagai seorang berdarah murni lokal. Orang Gowa. Orang Bugis. Orang Luwu. Atau orang Toraja. Intinya mereka pemilik darah murni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Benarkah demikian?

Mari membacanya dengan hati-hati. Dengan kepala yang dingin. Ada kalimat tentang kearifan lokal dan masyarakat adat, serta tradisi dan adat istiadat. Jadi saya ingin mengenalkanmu seperti ini, jika kakek dan nenekmu lahir, lalu besar dan tua, kemudian meninggal di satu tempat, dan dahulu kala telah menempati lahan dan mengolahnya dengan sistem bergotong royong (komunal) maka disebutlah mereka penduduk asli. Sesederhana itu.

Tapi itu penjelasan yang rumit. Meski kemudian hari, kalimat ini menjadi sangat penting dalam gerakan perlawanan untuk mendapatkan keadilan sosial di negara NKRI. Tapi saya tak ingin mengenalkanmu kisah masa sekarang. Sebab saya tetap berpegang teguh bahwa bumi, tanah dan sumber daya yang tergantung di dalamnya adalah milik bersama. Milik segala umat manusia. Yang catatan pentingnya,  adalah dikelola dengan sebaik-baiknya.

Lalu, siapa orang Indonesia itu. Apakah kamu meyakini dirimu berdarah murni Indonesia? Coba buatlah garis silsilahmu, tuliskan di kertas,  nama bapak dan mamakmu, kakek dan nenekmu, hingga buyutmu. Masih ingat? Lalu tulis lagi siapa bapak dan mamak buyutmu, lalu kakek dan nenek buyutmu, lalu buyutnya buyutmu. Mulai ribet bukan.

Oke, itu sebabnya dari sini cerita bermula. Beruntung, leluhur kita pernah membuat benda dan lukisan kebudayaan. Iya tertanam di bawah tanah dan di dinding-dinding gua. Hingga ribuan tahun, pengetahuan itu berdiam diri, lalu beberapa orang menemukannya.

Ada sampah dapur dari sisa kerang laut yang mengendap di dinding gua. Ada tanah bekas pembakaran. Ada tulang hewan yang telah dibakar. Ada alat tulang. Ada batu kecil yang dijadikan pisau dan penyerut. Ada gambar cap tangan di dinding dan langit-langit gua. Mereka menggambar hewan. Mereka juga menggambar sosok manusia. Jika kau melihatnya itu seperti hal yang tak masuk akal. Tapi itulah petunjuknya.

Ya, mereka yang dalam buku pelajaran sekolahmu dinamakan manusia purba. Manusia yang kadang-kadang dikenalkan sebagai seorang yang tak beradab. Manusia yang tingginya mencapai 2 meter lebih. Mereka seperti raksasa. Mereka juga memakan daging hewan mentah. Tidak pake baju dan sangat primitif. Tidak berbudaya. Tampangnya seperti monyet.

Kamu pasti percaya itu. Tenang, kamu tidak sendirian. Dulu saya juga percaya itu, waktu masih di sekolah. Tapi sekarang tidak lagi. Sebab, rupanya itu sesuatu yang tidak berdasar. Di Maros Sulawesi Selatan, kamu sebaiknya datang berkunjung di Taman Purbakala Leang-leang. Ajaklah gurumu dan mintalah petugas taman itu menjelaskannya.

Cap tangan itu, seukuran tangan kita sekarang. Para arkeolog memperkirakan tingginya hanya sekitar 165 sentimeter. Orang-orang ini tinggal dalam gua yang dipilih dengan pertimbangan yang matang. Keadaan cahaya, sirkulasi udara, hingga perlindungan dari hujan atau juga dari binatang buas. Gua itu adalah rumah mereka.

Dan untuk membuatnya sederhana, maka penamaan orang-orang yang tinggal di gua disebut sebagai Toala. Ciri khas kebudayaan mereka adalah mata panah yang disebut sebagai Maros Point. Ini mata panah yang indah, dengan gerigi di setiap sisinya. Runcing dan sangat menawan. Saya berkali-kali memegangnya dan tak henti mengagumi.

Mata panah batu ini, dibuat dengan menggunakan batu juga. Ujungnya sangat runcing. Mata panah ini digunakan untuk berburu hewan, seperti babi dan anoa.  Selain itu, ciri lainnya masyarakat Toala adalah alat batu yang belum halus.

Mata panah tertua yang ditemukan dan telah dilakukan penanggalan usianya mencapai 7000 tahun yang lalu. Artinya ada sekitar 4000 tahun sebelum Masehi. Kamu tahu kan tahun satu masehi itu dimulai dengan kelahiran Jesus.   

Lalu apakah Toala ini adalah masyarakat lokal Sulawesi? Jangan terburu-buru, orang-orang ini juga masih diperkirakan sebagai pendatang. Penelitian arkeologi di Maros dan Pangkep, belum pernah menemukan kerangka utuh manusianya. Belum ada penelitian DNA.

Jadi mereka punah? Oh itu pertanyaan yang mencengangkan. Tapi mari melihat gelombang migrasi manusia lainnya. Belakangan pada sekitar 4000 tahun lalu, ada bangsa penutur Austronesia dari ras Mongolid yang mendatangi Sulawesi.

Orang-orang ini, datang mengarungi lautan. Menggunakan perahu bercadik sederhana. Mereka inilah gelombang manusia dari dataran Cina. Austronesia dikenal juga sebagai pembawa zaman neolitik – zaman batu baru. Masyarakat ini sudah tidak hidup berpindah. Mereka sudah menetap dan membangun rumah pondok sederhana.

Para penutur Austronesia ini, juga mulai menanam umbi-umbian. Mulai mendomestikasi binatang – seperti memelihara babi dan ayam. Ini lah zaman yang dikenal sebagai surplus pangan. Orang-orang ini sudah tidak begitu massif berburu.  

Pada Juli 2019, ketika saya bersama tim peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Makassar mengunjungi Mallawa di Maros, melihat mereka bekerja menggali dua kotak penelitian di lantai Gua Sibokereng. Tim itu, melihat setiap temuan dengan saksama dan penuh ketelitian.

Di Mallawa ada 10 situs yang menjadi titik penelitian sepanjang 2015 hingga sekarang. Asosiasi temuan Toala dan Austronesia acapkali dijumpai. Jadi mungkin mereka pernah hidup bersama. Atau pula mereka saling mengadaptasi tekonologi.

Bangsa Austronesia adalah pendatang baru yang membawa teknologi seperti gerabah slip merah. Gerabah yang berwarna agak kemerahan yang sangat kuat. Gerabah itu atau dikenal pula sebagai tempayan, juga digunakan untuk menjadi bekal kubur. Ciri lain, masyarakat ini menguburkan jenasah dengan menekuk lutut.

Lalu apakah orang Toala dan Austronesia pernah hidup berdampingan? Hasanuddin, arkeolog dari Balar Makassar bilang, kalau itu belum ada bukti. Tapi bahwa ada persentuhan kebudayaan antara orang Toala dan Autronesia pernah terjadi, itu jelas. “Kita menemukan di beberapa situs yang memberikan asosiasi pertemuan itu,” katanya.

Maka bisa saja terjadi, ketika Orang Austronesia datang dengan membawa teknologi baru, maka orang Toala tersingkir karena kalah dalam bersaing. Tapi kemungkinan lainnya adalah mereka membangun hubungan dan bermukim bersama.

Jadi kita keturunan orang Toala atau Austronesia? Benar sekali ini pertanyaan pentingnya. Beberapa penelitian menggambarkan secara genetik saya dan kamu adalah keturunan orang Austronesia dari Ras Mongoloid. Gelombang pendatang dari dataran Cina. Tapi tidak menutup kemungkinan genetika kita juga masih menyimpan garis Toala.

Arkeolog cum Antropolog, Iwan Sumantri bilang, jika tidak ada satu orang pun di negara yang berhak mendapuk dirinya sebagai seorang yang berdarah murni Indonesia. Sulawesi atau Indonesia secara umum seperti adonan kue. Diramu dengan beragam bahan genetika dan beberapa ras manusia. “Itu saya kira adalah analoginya. Ada orang-orang yang datang migrasi. Ada yang bertahan, dan ada yang pergi. Mereka inilah yang kemudian membentuk masyarakat awal,” katanya.

Jadi apakah kamu mulai memahaminya. Saya kira catatan ini, untuk mengingatkanmu agar berlaku adil dalam melihat ragam umat manusia. Ragam pembentuk dirimu sendiri. sebab saya dan kamu tidak lahir dari proses penciptaan spiritual yang langsung dari tangan tuhan. Tapi darah kita adalah adonan yang kemudian kita sebut Indonesia.

Kamu tak perlu interupsi begitu keras, jika mitologi kita di Sulawesi Selatan mengenai To Manurung, orang pertama yang hadir dari langit itu adalah darah murni. Maka kemungkinan mereka adalah orang-orang Austronesia. Meski kemudian, “darah” silsilah itu acap kali di reproduksi untuk mengakses politik dan ekonomi dalam masyarakat. Kamu harus hati-hati bahwa sebenarnya itu tentang relasi kuasa dan penguasaan properti. Kamu coba lihatlah istana-istana kerajaan di Sulawesi Selatan.

Maka hari ini saya ingin mengucapkan selamat merayakan ke-Indonesiaan kita ini sebagai catatan adminstrasi negara dalam usia 74 tahun. Siapa pun, yang menjadi penduduk tanah ini, mereka adalah orang Indonesia. Berhenti lah mengumbar rasisme sebab itu akan membuatmu melihat hidup hidup dengan keras. Kamu Austronesia,  atau kamu Toala, atau kamu keturunan Sawrigading dari kerajaan tua Luwu di Sulawesi Selatan, susunan genetika kita tetap sama. Adonan yang bhinneka.    

Rabu, April 01, 2020

Berlari dan Berburu


Alat batu dari Matano. Foto oleh: Nono BALAR Makassar.
Apakah kamu pernah mengendarai kendaraan lalu mogok. Aki-nya soak dan mungkin businya tak berfungsi. Sementara kejadian itu terjadi pada siang yang terik. Kamu akan ngedumel. Benar kan.

Tapi coba merasakan hal lain. Jalan lah ke Maros, tepatnya di kawasan yang dipenuhi gunung karst. Dan cobalah berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Kalau kamu belum tahu, dimana itu ambillah gawaimu dan cari di sekitar tempatmu tinggal. Kini kamu harus menuju ke sana. Benar sekali, batu itu seperti ujung pisau, runcing dan tajam. Sepatu yang kuat bahkan bisa terkoyak.

Karst Maros dan Pangkep ini, luasnya sudah kujelaskan pada bab awal, seluas 44.000 ha itu adalah halaman leluhur kita. Halaman nenek moyang kita. Ya, ya, nenek moyang itu bukan berarti adalah mereka yang sudah tua. Tapi manusia yang hidup berbeda masa dengan manusia sekarang. Mereka juga hidup berkelompok, punya orang tua, remaja, dan anak-anak.

Anak-anak nenek moyang kita itu, sama dengan kamu yang membutuhkan halaman. Ingin berlari dan bermain. Lalu memanjat, dan juga berenang. Membayangkan, masa itu, tentu saja perbandingannya bukan dengan masa sekarang. Waktu itu, tak ada listrik apalagi jaringan seluler. Mereka tak punya handphone untuk bermain game. Mereka kemungkinan, bermain lemparan batu di sungai, atau berlari di hamparan rumput dan juga menjejak tebing karst.

Kakinya, sudah terbiasa, telapak kakinya mungkin sudah kebal. Tapi mereka sama dengan kamu. Bisa saja diwaktu senggang, mereka bermain di sela tebing, duduk-duduk bersantai, dan meneguk air dari sungai. Mereka juga kemungkinan menggunakan tebing, gua, dan pohon untuk bermain petakumpet. Menarik ya.

Tapi, keuntungan lain dari tebing dan ceruk, mereka bisa bersembunyi lalu menunggu hewan buruan dan memanahnya. Atau melemparnya. Pada masa itu, mereka belum memiliki kuda, seperti dalam film berburu. Mereka mengandalkan kekuatan dan strategi. Di banyak gua ketika para arkeolog menggali tanahnya, ditemukan ada banyak tulang hewan. Ada tikus, kuskus, monyet, babi rusa, bahkan tulang burung. Dan baru-baru ini juga ditemukan gigi hiu.

Sisa tulang itu adalah sisa makanan mereka yang terpendam dalam tanah. Jadi, sumber daging mereka masa itu cukup melimpah. Coba bayangkan, mereka membuat api lalu memanggangnya di depan mulut gua, sembari melihat bintang dan cerahnya langit. Mereka makan bersama, setelah itu mereka beristirahat.

Masa itu memang belum ada listrik. Cahaya api dan bulan lah yang menjadi temaramnya. Mata mereka terbiasa dengan malam, itu melatih mereka untuk tetap waspada. Jika kamu bertanya bagaimana mereka melakukannya, dan apakah orang bisa tanpa senter malam hari? Maka jawabannya tentu saja bisa.

Saat ini, penglihatan kamu mulai tidak terbiasa, dan terlatih, karena bergantung pada fasilitas dan kemudahaan. Jadi ketika listrik padam sesaat saja, kamu mulai tidak bisa berjalan. Akan menabrak kursi, atau bisa saja menabrak tembok rumah. Ihh, ngeri sekali.

Oh ya, hampir lupa, tadi saya sudah mengajakmu ke kawasan karst bukan. Mari kembali ke tempat itu. Coba kamu perhatikan, ini adalah Leang Pettae. Mulut guanya ada ribuan rumah kerang yang sudah menempel, karena membatu bersama larutan karst lainnya. Gua ini adalah tempat hunian nenek moyang kita.

Nenek moyang kita mengumpul kerang itu, lalu dimakan di rumahnya. Mereka menumbuk bagian belakang kerang, lalu menghisap isinya. Ini teknik mengumpul. Tapi bagaimana dengan gambar Babirusa di dinding guanya?

Tentu saja, mereka mendapatkan itu dengan cara berburu. Atau ada kemungkinan mereka menggunakan perangkap. Jadi saya ingin sederhanakan agar kita sepakat, bahwa menjebak, memanah, mengejar, dan membuat perangkap adalah teknik berburu. Kamu sepakat kan.

Saat nenek moyang kita melakukan perburuan, mereka pasti akan berlari di antara tebing, hingga melompat. Ketika sudah menemukan Babirusa incarannya, mereka akan menombak dan memanahnya. Dan bisa juga menimpanya dengan batu besar. Saat hewan buruan tertangkap, mereka membawanya pulang ke rumah.

Di rumah, mereka akan membuat api dan mulai membakarnya. Sementara itu, kulit hewan buruan besar seperti Babirusa, akan dikelupas dengan penuh hati-hati menggunakan alat batu – dinamakannya litik. Alat batu itu, bentuknya lucu. Pipih dan sangat tajam.

Para arkeolog sudah menekuni kajian itu sejak bertahun-tahun lalu, untuk bisa membedakan bagaimana serpihan batu yang terbentuk secara alamiah dan bagaimana serpihan batu yang dibuat secara sengaja. Para arkeolog ini, melihatnya dari beragam sisi. Di peralatan itu, mereka melihat dataran pukul, hingga penajaman dengan menggunakan miskroskop.

Arkeolog-arkeolog itu melihatnya dengan hati-hati, hingga mereka bisa membedakan ada alat batu untuk memotong hingga menyerut. Ya benar, itu seperti kau melihat peralatan dapur ibumu, ada pisau untuk memotong daging, ada untuk mengupas bawang, ada untuk mengelupas daging ikan. Nenek moyang kita, tentu saja memilikinya, tapi menggunakan batu.

Lalu bagaimana pemilihan makanan nenek moyang kita itu. itu tidak lepas dari letak wilayahnya tinggalnya. Seorang arkeolog, baru-baru ini telah membuat pola sebaran fauna dalam gua hunian. Temuannya mengejutkan. Gua-gua hunian, atau rumah nenek moyang kita yang berada di wilayah Pangkep – dinamakan wilayah utara – dominasi lukisan faunanya adalah dari air (fauna aquatik). Lukisan guanya sungguh mengagumkan, ada gambar ikan paus, penyu, ubur-ubur, hingga teripang. Sementara di wilayah Maros – wilayah selatan – faunanya adalah dari daratan, seperti Babirusa dan Anoa.

Pada masa itu, itu sekitar 44.000 tahun yang lalu, nenek moyang kita di Pangkep dan Maros, punya makanan favorit sendiri-sendiri tergantung dari persediaan alam di sekitarnya. Jadi karena wilayah pangkep itu berdekatan dengan laut, maka mereka terbiasa berburu di air. Sementara di Maros, karena wilayahnya berdekatan dengan hutan, maka mereka berburu binatang mamalia. 

Itu adalah hal lumrah. Misal jika kamu berkunjung ke Toraja, kamu akan sulit menemukan variasi makanan dari ikan. Tapi mengunyah daging, seperti babi, ayam, hingga rusa, selalu ditemukan. Nah ini berbeda dengan orang Barru, yang sangat senang menyantap ikan laut.

Jadi nenek moyang kita yang tinggal di gua dan kemungkinan yang membuat lukisan itu, mereka belum memiliki peternakan. Mereka juga belum mampu mendomestikasi – atau menjinakkan – hewan, mereka hanya mengambil dari alam apa yang dibutuhkan. Maka dari itu, mereka mencarinya. Atau berburu. 

Domestikasi – atau menjinakkan itu - adalah nenek moyang kita yang datang belakangan. Mereka adalah bangsa dari penutur Austronesia. Mereka datang dan mulai bertani menetap. Ketika bangsa ini datang, maka nenek moyang kita sebelumnya, tersingkir. Tapi beberapa anggapan menyatakan, kemungkinan mereka hidup berbaur, dan kemungkinan mereka saling benci. Jadi untuk orang-orang penutur Austronesia ini, kita akan mebahasnya di bab lain ya.