19/02/20

Berebut Lapisan Nikel di Sulawesi

Sebuah peringatan untuk masyarakat sekitar. Dengan menggunakan warna khusus PT Vale, di areal kontrak karya perusahaan.

Laporan kandungan nikel di wilayah Sulawesi sudah dimulai sejak Belanda. Urung dikeruk karena Perang Dunia II dan gangguan pergolakan Darul Islam Indonesia. 
 
Ada masa ketika Malili – pusat Kabupaten Luwu Timur – begitu ramai pendatang. Helikopter dan orang-orang asing silih berganti berdatangan. Mereka berjalan kaki dan menerobos hutan. Mendaki gunung Bulubalang dan melihat cebakan nikel.

Mari melihat muasalnya: itu bermula dari Kruyt, seorang bekebangsaan Belanda, misionaris sekalgius seorang peneliti lapangan tahun 1901. Dia mencatat kandungan nikel yang tersebar di selangkangan pulau Sulawesi (kini meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah). Dia meneliti bijih besi di pegunungan Verbeek.

Lalu tahun 1909, Abendanon geolog Belanda, menemukan bijih nikel di Pomalaa. Selain itu dia juga mengumpulkan beberapa contoh batuan di daerah Sorowako tahun 1915. Lima tahun kemudian melalui Jawatan Pertambangan Hindia Belanda, dilakukanlah eksplorasi dan eksploitasi percobaan.

Kabar itu kemudian di dengar Inco Ltd, perusahaan pengolah nikel di Kanada. Dia mengirim geologisnya bernama Flat Elves melakukan studi kelayakan. Namun dalam rentang 1935-1939 dua perusahaan swasta sudah kecantol dengan kandungan nikel. Masing-masing Minjbouw Maatschappij Celebes (MMC) dan Oost Borneo Maatschappij (OBM).

OBM mengeksplorasi wilayah Pomalaa, dan berhasil mengirim 150.000 biji nikel ke Jepang. Sementara MMC masih melakukan eksplorasi di wilayah Bulubalang, mengerahkan sekitar dua ribu buruh. Beberapa tahun kemudian, perusahaan ini mengirimkan 500 ton bijih nikel ke Jepang.

MMC bahkan menemukan cadangan bijih nikel sebanyak 300.000 ton berkadar 3,5-4,0 persen di Malili hingga Sorowako. Pada masa inilah INCO Ltd, melakukan penjajakan untuk melakukan kerjasama. Namun terhalang kecamuk perang dunia II. Selanjutnya kerjasama juga urung terjadi karena 1940-an Indonesia sedang dalam perang kemerdekaan.

Setelah masa pendudukan Jepang (1942-1945), eksplorasi Pomalaa berlanjut oleh perusahaan Sumitomo Kabusuki Kaisha. Kelak, setelah Sorowako di tambang, Jepang lah yang menjadi titik pengiriman utama dengan perusahaan yang sama.

Dari sinilah, tabir lapisan nikel terbuka.

Menyisir Sorowako
Berkendara melalui jalur Malili, Karebbe, menembus Balambano, lalu Wasuponda dan berakhir di Sorowako, seperti sedang menarik sisir raksasa. Itu menyapu setiap gugusan undakan pegunungan Verbeek yang kaya akan mineral nikel.

Pada masa awal, kegiatan eksplorasi nikel di kawasan itu, jalan lurus yang saya ibaratkan menarik sisir, belum ada. Melainkan, memutar dari Malili, menuju Ussu, Tole-tole, Wasuponda, Tabarano, Ranteloka, lalu menurun ke Timampu, dan mendaki ke Sorowako. Menempuh jalur lama itu mencapai 4 jam.

Ketika perusahaan memasuki kawasan Sorowako, mereka membuat jalan lurus dengan jarak tempuh hanya sekitar 1-1,5 jam. Jalur perdagangan awal akhirnya mati. Kampung tua Matano, yang dikenal sebagai bagian dari warisan agung para penempa besi, ikut tenggelam.

Berdiri di dekat tugu perbatasan Kecamatan Malili dan Wasuponda, di jalan baru – dalam istilah setempat – di bawah kaki ada sungai Larona serupa danau kecil yang tak mengalir. Airnya ditampung untuk memenuhi DAM di PLTA Karebbe.

Karebbe adalah nama kampung tua. Beni Wahju, geolog yang semula bekerja untuk Djawatan Geologi di Bandung, menjadi orang-orang awal dalam eksplorasi. Dia datang ke Malili dan bermukim di rumah Camat. Dia menelusuri rute buruk dengan jalanan yang rusak karena dirusak pasukan pergolokan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia pimpinan Kahar Muzakkar. Pembongkaran dan perusakan jalanan, pada masa pergolakan memang lazim dilakukan. Selain untuk memutus akses darat, juga digunakan sebagai pengikat rasa senasib antar pasukan. Bahkan para pasukan pergolakan membuat sebuah lagu.

Pulau ditebang// jembatan dirusak//telepon diputus//gurilla//sang gurilla//gurilla// gurilla Sulawesi
Tua dan muda// laki dan wanita// bersatu padu dalam gurilla// mengancam// membasmi PKI// itulah sifat kita// gurilla Sulawesi

Inco Bermula
Ratih Poeradisastra dan Bambang Haryanto dalam B.N Wahju, Dari Sorowako Jadi Tokoh Pertambangan Nasional, menuliskan ketika Soeharto berkuasa pada 1966 Pemerintah Indonesia membuka diri untuk penanaman modal asing. Pada 10 Januari 1967 diterbitkan Undang-undang Nomor 1 tahun 1967 tentang penanaman modal asing.

Kemudian pada 2 Desember 1967 terbit lagi Undang-undang Nomor 11 tentang Ketentuan Pokok Pertambangan. Aturan dianggap sebagai babak baru dalam eksplorasi sumber daya alam, yang dilengkapi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1969.

Hadirnya peraturan itu, disabut baik oleh negara yang bergerak dalam pertambangan. Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). Menteri Pertambangan Ir.Armunanto menunjuk Ir.Hitler Singawinata sebagai manager proyek tambang nikel Malili pada 1965-1968. Hasil penelitian itu kemudian, oleh pemerintah ditenderkan.

Ada enam perusahaan yang tertarik. INCO Ltd dari Kanada, Societe Le Nickel dari Prancis, MITI/Sumitomo dari Jepang, Kaiser Aluminium dari Amerika Serikat, US Steel dari Amerika Serikat, dan Sherrit Gordon dari Kanada. 

Pemenangnya, diumumkan tahun 1968, dan menyatakan bahwa INCO Ltd. adalah yang paling layak. Hal tersebut, tidak begitu mengherankan sebab Beni Wahju dan Hitler sudah saling akrab dan telah mengantar geolog dari INCO. Tahun yang sama pada 27 Juli Kontrak Karya PT Inco ditandantangani. Dan tahun 1978 memulai produksi komersil pertama.

Awalnya PT Inco – sekarang PT Vale – mendapat hak konsesi 6,6 juta hektar. Lalu secara perlahan dilakukan pelepasan dan saat ini area konsesi perusahaan 118.453 hektar dan mendapatkan Kontrak Karya hingga 28 Desember 2025. (sumber; http://www.vale.com/indonesia/BH/aboutvale/history/pages/default.aspx)

Saat ini, pertambangan nikel di Sulawesi,  tersebar di ratusan titik. Dari mulai Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah hingga Sulawesi Tenggara. Ijin pertambangan itu, baik dikelola secara legal maupun illegal. Cebakan nikel itu, menunjukkan jika Indonesia memiliki 15% cadangan nikel dunia.

Kini PT Vale – sebelumnya PT Inco -  selama 51 tahun melakukan penambangan di wilayah Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, memiliki dua sisi mata pedang. Selain membuka akses wilayah hingga pendidikan, perusahaan ini juga terus dirongrong persoalan sosial hingga lingkungan. 

Tahun 1973, ketika ketika harga nikel melambung naik, dari US$ 3 menjadi US$ 12 per barel, perusahaan melakukan pembangunan PLTA. Meski negosiasi dengan PLN mendapatkan jalan buntu terkait pajak air. 

Ratih Poeradisastra dan Bambang haryanto mencatat peristiwa itu, “namun Ir.Hitler dan Ir.Loekman Kartanegara bermain golf dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Ir.Soetami sambil  berbicara dari hati ke hati. ‘Pak Tami, sampai sekarang Sungai larona mengalir ke laut tanpa bayar pungutan apa-apa. Bagaimana kalau saya buat pembangkit tenaga listrik dari sinar matahari, apa saya mesti bayar sama Tuhan Allah,” kata Loekman Kartanagara.

Pernyataan itu rupanya mujarab. Kini PT Vale, bahkan telah memiliki tiga PLTA untuk keperluan industri. Meskipun tetap menggunakan batu bara dalam pembakaran.

Negosiasi serupa juga dilakukan dalam persoalan lingkungan. Melalui Hitler, dan General Manager Construction Paul Savoy, mereka menemui Dirjen Pertambangan Umum, Prof. J.A Katili. Katili membuka buku Rencana Pembangunan Lima Tahun Pertama (Repelita I) dan mengingatkan aturan yang berisi pencemaran lingkungan. “Mr.Katili, untuk tambang dan pabrik pengolahan nikel di Sorowako, kami memakai standar pencemaran lingkungan yang berlaku di Kanada yang lebih ketat daripada yang berlaku di Amerika Serikat. Contohnya, kami telah memasang penangkap debu seharga US$ 2 juta di puncak cerobong,” kata Savoy.  Dan ajaib, Katili menutup buku Repelita I.

Beginilah Undang-undang Penanaman Modal Asing, diciptakan untuk memudahkan dengan dalih pemulihan ekonomi. Dan Vale – sebelumnya Inco- adalah sekian koorporasi internasional yang menikmatinya. Atau ketiban untung dalam masa kepemimpinan Soeharto.

18/02/20

Orang-orang Pembuangan


Jufri Buape, mantan tahanan politik di kamp Moncongloe, Maros. Dia meninggal tahun 2017.

Muhammad Jufri Buape, 73 tahun. Mantan Tahanan Politik (Tapol). Pengurus Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan Pemuda Rakyat - organisasi yang dinaungi Partai Komunis Indonesia (PKI) di Pare-pare,  sudah duduk di ruang depan rumahnya. Menghisap rokok dari lentingan tembakau murahan. Sudah hampir habis. Lalu mencocolnya ke dalam dasar asbak.  
 
Saya mengulurkan tangan bersalaman. Dia menerimanya dengan susah payah. Tak beringsut dari kursi plastik. Tangan kirinya lumpuh sejak tahun 2012. Tongkat untuk membantunya berdiri, tepat di samping kanannya. “Saya datang pak. Sesuai janji,” kataku. “Ya ya ya, ayo duduk,” katanya, lalu kami tertawa bersama.

Jufri menggapai tembakaunya. Saya mengulurukan rokok kretek, agar tak bersusah payah lagi menggulung. “Saya datang untuk bertanya dan meminta bapak bercerita tentang peristiwa kelam. Peristiwa tahun 65 itu, jika bapak bersedia,” kataku. “Saya datang untuk membuktikan, cerita dan rumor orang-orang jika tahanan 65 seperti bapak dan banyak teman-teman bapak, adalah orang kejam. Anti agama. Beberapa hari ini, saya juga bertemu teman-teman bapak dan menanyakan hal sama.”

Jufri tersenyum.  Menarik kakinya ke arah dalam, membuat badannya terlihat tegap. Membenarkan letak tangan kirinya yang hampir jatuh dari sandaran kursi. “Hahahaha, kamu tahu film itu (film propaganda pemerintahan Orde Baru G30 S PKI), itu semua tidak benar. Tapi masyarakat nonton itu, jadi itu dipercaya. Anak-anak sekolah dan semua orang nonton,” katanya. “Film itu semuanya bohong, saya yakin itu.”

“Kalau itu benar, maka saya ikut membenci partai ini. Apa kau setuju dengan film itu?” kata Jufri.

TAHUN 1965, JUFRI BUAPE, bertugas sebagai polisi Pamong Praja di Kabupaten Sidrap. Pada sebuah pagi, di Desember tahun itu, sebelum berangkat kerja, dia menjenguk salah seorang keluarga. Sekira pukul 12.00 beberapa tentara mendatanginya dan memintanya menuju kantor Kodim untuk diminta keterangan. Dia merasa heran, namun tetap ikut.

Dalam sebuah ruangan, seorang tentara bertanya, “Di Jakarta terjadi pembunuhan Jenderal. Kamu pasti terlibat,” kata tentara itu. Jufri kaget. Namun akal sehatnya masih berjalan. “Jangan menuduh sembarangan, saya di sini (Pare-pare) dan kejadian di Jakarta. Itu jauh sekali. Saya tidak tahu itu,” jawabnya.

Sejak permintaan keterangan siang itu, dia resmi menjadi penghuni di sel tahanan Kodim. Lalu dipindahkan ke Lapas Pare-pare selama enam tahun dan selanjutnya di masukkan di kamp pengasingan Moncongloe selama enam tahun. Total masa tahanan yang dilaluinya adalah 12 tahun.

Tiba-tiba saja Jufri berdiri, badannya bergetar hebat. Kakinya goyang bergeser, mencari tumpuan dan posisi yang tepat, agar badannya tak doyong. Tapi menyerah sesaat kemudian.  Meminta saya membantu menurunkan sebuah tas. Kusam dan berdebu. Tiga buah foto kenangan saat di Moncongloe menyembul. Salah satu frame-nya terlihat empat orang pria berdiri. Jufri ada diantara pria itu, menggunakan jaket, celana kotak bergaris dan memakai kacamata.

Latar belakang foto itu adalah barak tahanan. Jufri golongan B, penghuni barak A. Setiap barak dihuni sekitar 100 orang. Ranjang tingkat. Lantai papan. Tanpa kasur.

Di kamp pengasingan Moncongloe, tahanan dibagi dalam lima buah barak. Untuk barak A,B,C, dan D dikhususkan untuk laki-laki. Dan barak E untuk wanita. Setiap barak memiliki satu dapur umum. Pada awal pembangunan, jalan menuju kamp hanya ada satu. Ada dua buah pos jaga – dikenal dengan nama piket-an. Satu di jalan masuk kamp, satu lagi berada di ketinggian untuk memantau situasi kamp.  

Para Tapol juga diklasifikasi. Misalnya, untuk tahanan golongan A adalah mereka yang menjadi pengurus Partai Komunis Indonesia (PKI) dan pentolan oraganisasi partai. Golongan B adalah tahanan terpelajar yang menjadi penggerak lapangan. Dan golongan C adalah simpatisan dan orang-orang yang dicurigai terlibat PKI dan organisasinya.

Kamp Moncongloe dipagari kawat berduri, di dalamnya ada masjid, gereja, poliklinik, lapangan upacara, dan dapur umum. Setiap pagi para tahanan politik akan berkunjung ke rumah-rumah perwira, dipekerjakan sebagai pembantu, atau pun menjadi pekerja perintis jalan, membuka lahan, dan membuat beberapa bangunan. Para Tapol juga mendapatka waktu, antara pukul 16.00 hingga 18.00 mengelola lahan. Menanam tomat, singkong, dan beberapa jenis sayuran.  

Bagi para mantan tapol, kamp Moncongloe dirasakan sedikit lebih nyaman. Setiap hari mendapatkan jatah nasi. Sesekali waktu ada ikan teri. Sayur dari hasil ladang sendiri. Daun ubi adalah menu favorit waktu itu.

Tapi, sebelum menempati kamp, para tahanan tak mendapatkan jatah makan. “Oh itu tak ada makanan. Jadi setiap hari keluarga bawa makanan, tapi disortir dulu sama petugas,” kata P.L Payung, 80 tahun, mantan Tapol dari Tana Toraja.

Payung menghuni sel besi di Kodim Toraja pada 28 Oktober 1965. Empat orang tentara menjemputnya saat pulang sekolah. Dia seorang guru Sekolah Dasar di Rante Pao. “Saya tidak sempat naik ke rumah. Petugas menunggu di depan rumah, lalu saya di borgol,” katanya. “Jadi sama anak,  istri dan keluarga tidak ketemu. Tidak sempat ganti baju.”

Para tentara itu begitu sigap dan tegas. “Bapak diamankan. Makanya harus ke Kodim,” kata tentara itu ditirukan Payung. “Kenapa saya diamankan. Saya kan tidak buat rusuh,” jawab Payung, yang terus digiring naik ke mobil.

Payung menghuni sel tahanan Kodim selama enam tahun. Tanpa pengadilan, tanpa pembelaan. Bersama ratusan tahanan lain, setiap hari diperintahkan membuat jalan.  “Kami ke sungai mengambil kerikil dan memanggulnya. Batu-batu itu harus sama semua, tak boleh ada yang lebih kecil, tak ada yang boleh lebih besar. Kalau banyak bentuk, akan kena sanksi, bisa dipukul kita,” katanya.   

Hal yang sama dirasakan Waris Thahir, 75 tahun, seorang Pegawai Negeri di kantor Walikota Pare-pare. Pada Desember 1965, dia dijemput oleh tentara dengan alasan keamanan. “Di penjara Pare-pare, kami keluar dan diperintahkan buat jalan. Kami juga membangun jalan menuju Pacekke (sekarang dikenal dengan nama Monumen pacekke dan menjadi salah satu kebanggaan TNI). Jadi jalan yang dinikmati di Pare-pare adalah keringat dari teman-teman Tapol,” katanya.

Sejarawan Universitas Negeri Makassar, Taufik Ahmad, dalam Kamp Pengasingan Moncongloe, menuliskan kerja paksa para tapol berlangsung sejak awal penangkapan. Di Kabupaten Barru tapol merintis jalan dari Mangkoso ke Paccekke sekitar 10 kilometer. Di Pare-pare pada 1967, atas permintaan Walikota Andi Mallarangeng, tapol membangun jalan raya. Di Takalar membangun jalan dari kota Takalar menuju Pattondo (perbatasan Jeneponto). “Jadi bisa dibayangkan, tapol ini bekerja tanpa upah. Yang ada hanyalah jatah makan,” kata Taufik beberapa hari lalu.

Pada 1966, Kolonel Inf. Solichin yang menjabat Panglima Kodam XIV Hasanuddin, mengeluarkan kebijakan baru untuk perumahaan satuan-satuan tempur, berupa pembukaan home base. Lokasinya disiapkan Pemerintah Daerah atas pertimbangan taktik dan strategi jangka panjang dalam rangkaian Perang Rakyat Semesta (Perata). Salah satunya adalah pembukaan lokasi di Moncongloe tahun 1969.
Pola pemanfataan ini disebutkan pula sebagai transmigrasi lokal, sebagai upaya pemindahan Tapol dari Makssar menuju Moncongloe – yang saat ini menjadi wilayah Kabupaten Gowa dan Maros. Alasan pemisahaan Tapol dengan tahanan lain, untuk kemandarian dan tentu saja untuk memutus pemikiran dan ideologi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Maka pada Maret 1969, 11 orang Tapol dari Makassar diberangkatkan ke Moncongloe, masing-masing tujuh orang laki-laki dan empat orang perempuan. Tapol inilah yang menjadi perintis awal kamp pengasingan Moncongloe. Beberapa bulan kemudian Tapol lain didatangkan sebanyak 44 orang. Dan pada akhir 1969, fasilitas kamp sudah selesai. Dimana terdapat barak laki-laki ukuran 6 x 20 meter sebanyak empat buah, barak wanita 1 buah, tempat piket, 1 buah poliklinik, masjid ukuran 7 x 10 meter, gereja ukuran 7 x 10 meter, aula 6 x 20 meter, koperasi, dan lapangan upacara. Dengan luas keseluruhan kamp adalah 150 meter persegi.

Hingga akhir tahun 1971, jumlah tapol yang menghuni Kamp Mocongloe mencapai 911 orang, terdiri dari 52 perempuan dan 859 laki-laki. Rinciannya sebanyak 250 tapol dari penjara Makassar, dan selebihnya saat mejelang pemilihan umum tahun 1971 didatangkan dari Majene, Polewali Mamasa, Pinrang, Tana Toraja, Palopo, Pinrang, Pare-pare, Barru, Pangkep, Maros, Bone, Gowa, Takalar, Bantaeng, Bulukumba dan Selayar.

Kamp Moncongloe - desain Rasjidi Amrah

RASJIDI AMRAH, 75 Tahun, mengingat betul pertama kali memasuki kawasan Moncongloe. Hutan, rumpun bambu, dan jalan tanah yang jelek. Dia menghuni barak D, golongan B. “Saya benar-benar tak bisa bilang apa. Dari Majene, kami dibawa menggunakan truk. Seperti binatang, dan tidak dikasi makan,” katanya.

Rasjidi adalah salah seorang mahasiswa terbaik Universitas Hasanuddin tahun 1960-an, jurusan Teknik Sipil. Dia kuliah dengan beasiswa sejak awal. Mengunjungi ITB sebagai tempat tes terakhir kelulusan untuk mencapai gelar sarjana dalam program studi teknik. Dia juga merupakan salah seorang penerima beasiswa pendidikan untuk program Full Study ke Uni Soviet. “Saya tidak berangkat, karena menunggu keputusan kampus, tapi rupanya saya sudah digantikan di Jakarta,” katanya. “Tapi karena tidak pergi, maka itu menjadi alasan saya ditangkap. Bagaimana kalau saya ke Uni Soviet mungkin saya tidak pulang lagi ke Indonesia.”

Rasjidi tak tahu menahu perihal penahanannya. Tak peduli pada politik – apalagi PKI – organisasi di bawah naungan partai pun tak pernah disentuhnya. “Saya tidak masuk Pemuda Rakyat, ataupun Lekra. Tapi saya diamankan juga. Itulah nasib, mau melawan tidak bisa,” katanya.

Dalam tahanan, Rasjidi yang diketahui sebagai seorang sarjana teknik, dimanfaatkan oleh petugas. Dia lah yang menggambar desain masjid dan gereja. Dia pula yang merancang pembangunan barak. Bahkan di salah satu wilayah di Kabupaten Gowa, membuat desain 300 unit perumahaan tentara yang dikerjakan oleh para tapol. “Mereka tak memberikan upah. Atau itu sumbangsih pada negara mungkin,” katanya.

Sebelum ditahan, Rasjidi mengajar di Sekolah Menengah Pelayaran Makassar – sekarang Akademi Pelayaran Indonesia (AIPI). Tinggal di perumahaan kompleks Angkatan Laut. Kelak menjadi tempat dimana dia dijemput untuk diamankan. “Saya dijemput dengan mobil Land Rover itu. Ada empat tentara membawa senjata dengan bayonet lengkap. Benar-benar seperti penangkapan teroris,” katanya.

“Tentara dari angkatan laut itu, membawa saya ke kantornya di Ujung Tanah – sekarang jalan Tentara Pelajar dekat Pelabuhan Paotere – saya di suruh menunggu di tingkat dua. Sendiri. Menyeramkan. Saya lihat ada kapal perang di lautan. Jam satu malam, saya dibawa lagi ke kantor Polisi dekat kantor Balaikota,” kata Rasjidi.

Dari penjara Makassar, dia berpindah ke Mejene, menjadi tahanan Kodim dan Lembaga Pemasyarakatan lalu akhirnya dibawa ke kamp Moncongloe. Saat menghuni kamp, sebagai seorang insiyur, dia memperoleh sedikit kelonggaran, meski dengan pengawalan tapi selalu keluar. Tahun 1976, dia memutuskan menikah.

Saya menoleh ke istri Rasjidi yang sejak awal, menemani perbincangan sore di rumahnya di kawasan Antang.  “Saya tahu dia (Rasjidi) adalah tahanan. Tapi saya ada hubungan keluarga. Saya juga biasa berkunjung ke baraknya. Orang tua setuju dan seperti itulah jodoh,” sang istri.

JUFRI BUAPE MENERAWANG pada masa lalunya. Mengenang grup music yang dibentuknya dengan nama Banteng Merah. Acap kali memeriahkan hajatan kawinan dan acara pemerintahan di Pare-pare. 

Menurut dia, band ini sangat populer tahun 1963-1965, karena memiliki personil yang mumpuni. Dan gratis. “Kami main tanpa meminta bayaran. Tujuan kami Lekra dan Pemuda Rakyat menjadi tempat untuk menyalurkan kreatifitas dan tempat belajar kebudayaan,”  kata Jufri.

Visi ini jugalah yang membuat Jufri, kepincut dengan dua organisasi itu. “Sebelum bergabung, saya ikut melihat dan menilisik tujuan organisasi. Dan yakin setelah melihat pergerakan, menjadikan buruh dan para petani  berdaya,” katanya.

Menjadi pengurus Lekra dan Pemuda Rakyat tidak lah mudah. Harus melalui pengkaderan yang panjang. Memahami kondisi sosial masyarakat. Melek huruf. Dan memiliki kepribadian baik. “Kami pernah memecat beberapa anggota Pemuda Rakyat, karena terbukti memberikan informasi yang bohong pada masyarakat. Kami juga tak mentolerir, anggota yang bersikap sewenang-wenang atau memaksakan kehendak,” katanya.

Dalam ingatan Jufri, jumlah anggota dua organisasi itu mencapai ratusan, kalau tidak menghampiri ribuan. Anggotanya dari berbagai lapisan masyarakat, dari anak tani, pegawai negeri, pemuka masyarakat, tokoh agama, hingga keluarga militer.

“Jadi waktu di penjara Kodim, seorang tentara meminta menuliskan beberapa nama kawan-kawan saya. Jadi saya tulis, sekitar 10 nama yang semua bersumber dari kalangan TNI, yang bahkan istrinya sendiri. Kata tentara itu, ‘wah jangan yang ini. Kamu jangan bicara soal ini lagi’. Jadi mereka diam. 

Tapi orang-orang yang saya tuliskan namanya tidak pernah ditangkap,” kata Jufri.
Jufri memang senang dengan ide dasar komunisme – haluan PKI – tentang bagaimana melihat semua orang memiliki hak sama. Melalui organisasi dalam naungan PKI itulah, dia mencoba mendekati tubuh partai. “Tapi rupanya menjadi anggota PKI itu sangat sulit. Masa percobaan selama tiga tahun. Kalau sudah dianggap mumpuni dengan tingkat kecerdasaan barulah mendapatkan rekomendasi masuk partai,” katanya.

Sulitnya menjadi anggota PKI, juga diungkapkan Taufik. Kursus-kursus politik, diadakan secara berjenjang. Materinya adalah menggabungkan Teologi Islam dengan radikalisme dan Marxisme. Teori-teori dari Lenin, materialism historis, hingga pertentangan kelas merupakan materi wajib. Buku-buku pengajaran yang digunakan, diantaranya ABC Politik cetakan ke-2 yang disempurnakan, Revolusi Rusia sampai Yalto, dan Azimat Revolusi.

Di Sulawesi Selatan, PKI juga memberikan pendidikan politik untuk memberantas buta aksara. Antara lain sekolah Badan Pendidikan Rakyat (BDR) setingkat SMP, Panitia Pendidikan Rakyat (PPR) setingkat SD. Kursus ini dilaksanakan minimal 16 kali dalam empat tahun.

Jadi, sejak kapan ide komunisme ini masuk di Sulawesi Selatan. “Saya kira sejak tahun 1920-an. Namun tidak berkembang dengan baik. Nanti ketika pemberontakan DI/TII dan Permesta telah ditumpas (1950-1962), maka PKI mulai berkembang,” katanya.

Pada masa pemberontakan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar, PKI atau pun ideology komunisme dicirikan sebagai paham yang tak mempercayai adanya tuhan. Dalam paham beberapa orang pengikut Kahar Muzakkar, ide tentang Nasionalis Agama dan Komunisme (Nasakom) – s alah ide yang dikenalkan oleh Presiden Sukarno meniru beberapa negara sosialis -  dianggap mengada-ngada. “Mana mungkin kucing dan tikus disatukan dalam satu kandang,” kata Harun Al Rasyid, sekretaris Kahar Muzakkar beberapa waktu lalu di Palopo.

Tak hanya itu, daerah basis DI/TII seperti Bone, Mandar dan Palopo, dibentuk organisasi Bajak (Barisan Anti Jawa Komunis). Orang-orang transmigran yang dicurigai sebagai komunis akan dieksekusi langsung, baik sepengetahuan Kahar Muzakkar ataupun tidak.

Selama periode pemberontakan DI/TII dan Permesta hingga 1968, diperkirakan ribuan orang dibantai di Sulawesi Selatan. Menemui ajal di penjara, kamp pengasingan, ataupun diculik tanpa diketahui rimbanya.

“Saya ingat satu kawan saya, namanya Wempi. Dia orang Manado. Dia teman saya dari Pare-pare, baru tamat SMU mungkin usianya baru 19 tahun. Dia anggota Pemuda Rakyat. Dalam Kamp Moncongloe, dia itu tidak segan-segan bicara. Sangat revolusioner meskipun ada petugas,” kata Jufri.

“Dan pada suatu waktu, kami tak lihat lagi dimana dia. Saya Tanya ke petugas, mereka bilang dipindahkan di Rumah Tahanan Militer, tapi kami cari info hingga dua tahun tidak ada juga. Saya tidak tahu, dimana Wempi, hingga sekarang. Saya kira dia sudah diculik dan dihilangkan,” ujar Jufri.

Gereja yang dibangun para tahanan politik di Moncongloe, telah mengalami renovasi.

PADA 20 DESEMBER 1977, melalui surat Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan Dan Ketertiban, dilaksanakan pengembalian 10.000 orang tahanan G 30 S / PKI ke masyarakat, dari mulai Digul, Buru, hingga Moncongloe.

Hari itu, ratusan tapol di kamp Moncongloe begitu senang. Lalu dipilih lah sebanyak 150 Tapol, untuk menjadi perwakilan pelepasan di aula TNI di Jalan Lanto daeng Pasewang, Makassar. Jufri menjadi salah seorang diantara mereka. “Saya dengar pidato pelepasan itu dengan senang dan bahagia. Waktu itu Panglima Kodam Hasanuddin adalah Pak Kusnadi, dia bicara selama dua jam. Jadi Pak Kusnadi bilang, ‘kalau nanti besok, karena ini hari bapak-bapak bebas, besok-besok bertemu dengan masyarakat. Jangan bercerita masa lalu. Anggaplah ini masalah tidak ada’. Jadi saya mau bertanya bagaimana dengan nasib kami sebagai pegawai negeri,” kata Jufri. “Tapi ada beberapa intel disamping saya, larang bertanya.”

Rupanya setelah pembebasan dari Kamp Moncongloe, kehidupan para tapol tidak berjalan baik. Tempat awal bekerja sudah tak menerima. Kartu Tanda Penduduk (KTP) diberi cap diujung kanan ET – Eks Tapol. Bahkan orang-orang mencibir. Bahkan beberapa orang Tapol tak diterima lagi di kalangan keluarga dan masyarakat.

“Dulu sepupuku pegawai, kalau ketemu nda mau senyum. Bahkan saya punya bapak, Kepala Sekolah di SMP 2 Amanagappa Makassar, kalau pengisian riwayat keluarga, dia tak memasukkan namaku. Saudaraku pegawai juga, tidak ada na taro namaku. Iparku juga tidak ada. Coba,  kalau kita pikir, secara waras,” kata Rasjidi Amrah.

“Menantu saya tidak tau, kalau saya pernah jadi Tapol. Kita bisa baik ini (dapat pekerjaan), karena kerja sembunyi-sembunyi,” lanjut Rasjidi. “Tapi lambat laun, perubahaan terjadi. Sekarang mulai senang, orang-orang dulunya tak mau lihat saya itu, mereka memeluk saya. Bukan lagi tegur.”

Waris Thahir yang menunda aktifitas mandi,  ketika saya menemuinya. Handuk membalut tubuhnya. Tanpa baju. Rumahnya di dekat kawasan Benteng Somba Opu. Terbuat dari dinding tipleks rapuh. Beberapa atap sudah bocor. Lantainya dari semen kasar, beberapa terlihat potongan keramik sisa bangunan orang lain. Di tempel tidak beraturan. “Waktu keluar dari Moncongloe itu, saya kerja sembarang. Jadi tukang kayu dan buruh. Supaya bisa hidup dengan keluarga,” katanya.

“Dulu  kami tidak tahu, sampai kapan. Ternyata sampai sekarang, sampai bapak tua, tidak bisa lagi bekerja. Itu juga sudah mulai tuli. Kalau bicara harus keras. Kerjaan dan masa menyenangkan yang dulu, dingat-ingat saja,” kata Bunga, istri Waris Thahir.

“Saya dengar sejak beberapa tahun lalu, gaji bapak akan diganti. Tapi sampai sekarang juga nda ada. Mungkin setelah kami meninggal. Atau mungkin mi tuhan kasi kami umur panjang, untuk lihat itu,” lanjut Bunga.

Hampir sepekan saya mengunjungi beberapa Tapol Moncongloe itu. Ada beberapa yang sudah meninggal. Ada pula yang terserang penyakit stroke. Tak mampu lagi bercerita. Tapi bertemu mereka, kau akan melihat kekuatan. Para Tapol ini tak menginginkan belas kasih. Mereka hanya bertanya, siapa yang bertanggung jawab, pada peristiwa yang mereka alami.

“Saya mau semua orang tahu. Jadi sekarang saya bongkar semua yang saya ingat. Agar tidak ada lagi peristiwa semacam itu terjadi. Kita ini satu bangsa, dan tidak boleh ada penindasan sesama kita lagi,” kata Jufri.

04/07/17

Persalinan Terakhir

Di ujung nasib anak berkebutuhan khusus.

SORE HARI ia bangun dari tidur. Suara kakinya mengentak dari lantai dua. Dengan sepasang kaki yang kecil—akibat penyakit polio yang menyerangnya sedari kecil—ia beringsut menuruni anak tangga kayu dengan tumpuan pantat. Ia tersenyum lebar, dan kita bisa melihat sebagian giginya yang menghitam. Sela bibirnya selalu mengeluarkan air liur.

Nia, perempuan berumur 31 tahun, adalah penyandang tunawicara. Saya menyapanya dan ia hanya tertawa kecil. 

Dibantu tantenya, betapapun tidak mudah, Nia merawat putrinya dengan kekayaan yang ada di dalam tubuh dan pengetahuannya. © Sofyan Syamsul 
Hari itu di rumahnya, di satu kawasan pasar di Makassar, ia terlihat riang. Nazar sembilan bulan lalu, yakni berpuasa selama tiga hari, sebentar lagi tunai. 

“Kenapa harus puasa?” tanya saya. 

28/09/15

Pesona kopi

Yolan, memeriksa biji kopi di penjemurannya di wilayah Kotu, Enrekang.

Kopi menciptakan kemakmuran dan perang kekuasaan.

Jabier Amin selalu bahagia dan senang ketika melihat hamparan kebun, memeriksa pohon-pohon, menelisik buah, mengawasi pemetik hingga proses pemilahan biji kopi. Ia kini berusia 61 tahun, dan mulai bertanya-tanya pada diri sendiri tentang pesona kopi, yang membuatnya selalu lupa, jika pagi bisa beranjak sore.   

Ia alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan bekerja di PT Toarco Jaya, anak perusahaan Key Coffee yang berasal dari Jepang. Perusahaan ini berdiri sejak tahun 1976 di Toraja. Jabier mencintai pekerjaannya dan tak sedikitpun terpercik dalam hati untuk mencari penghasilan lain. Bekerja sebagai seorang ahli tanaman kopi di atas puncak pegunungan Padamaran, Kabupaten Toraja Utara. Menurutnya, kebun kopi ibarat lahan praktek yang menggiurkan. “Saya bersentuhan langsung dengan tanah. Teori-teori yang saya dapatkan di kampus saya praktekkan,” katanya. “Apakah ada kebahagiaan lain ketika bekerja sesuai dengan jurusan dan kemauan. Saya kira tidak.”

Pada Rabu sore, 18 Juni 2014, Jabier berada di ruang kerjanya di Rantepao. Saya menemuinya saat ia baru saja kembali menemani beberapa orang Jepang berkeliling kebun. Saya tak melihat raut kelelahan di wajahnya, bahkan dengan penuh semangat dia berkisah.

Jabier Amin adalah seorang teman ngobrol yang asyik. Tak butuh waktu lama bagi setiap orang akan dengan cepatnya jatuh cinta pada kopi. “Coba kau hirup dulu, kemudian cicipi. Bagaimana rasanya?,” katanya. “Ada asam, sedikit pahit, tapi tak membuat tenggorokan gatal,” kata saya. “Sekarang kau campurkan gula dan rasakan perubahan rasanya,” lanjutnya.

18/05/15

Membaca dan Memahami Komunis

Apakah paham komunis itu bisa mengancam pergaulan dan cara berkebangsaan kita. 

Suatu kali saya menempuh perjalanan 12 jam, dari Sorowako menuju Makassar. Saya menumpangi sebuah bus sewaan, duduk diantara orang-orang dengan beragam ekspresi. Bus itu tak memiliki lampu baca, akhirnya, saya mengaktifkan list lagu di hape. Selama perjalanan, dendang dan irama dari Iwan Fals, Cake, dan Nirvana memanjakan telinga. Benar-benar menyenangkan. Jika sudah demikian, maka khayalan saya akan berlari dan berlompat, liar dan tak terkendali.

Tapi khayalan saya tiba-tiba berhenti pada sebuah peristiwa. Saman pasca peristiwa Gerakan 30 September. Orang-orang menjadi ketakutan dengan ideologi komunis, saman dimana orang-orang PKI dianggap sebagai malapetaka. Bagi saya inilah salah satu saman kegelepan, memperkarakan pemikiran seseorang, lalu membunuhnya.

Ada ratusan, ribuan, bahkan lebih, yang tak tahu harus bagaimana. Orang-orang yang dituduh terlibat dengan gerakan komunis ruang geraknya dipersempit, lapangan pekerjaan tak mereka dapatkan. Kartu tanda penduduk pun diberi tanda sebagai orang yang perlu diwaspadai.

Iwan Fals, dalam lagunya Engkau Tetap Sahabatku, benar-benar menghantarkan khayalan saya itu. Lagu itu ibarat menanyangkan gambar bergerak. Semakin saya mendengarnya dengan saksama, semakin membuat tubuh saya merinding.

Tersingkir Di Tanah Leluhur

Dulu, lapangan luas ini adalah Kampung DOngi. Kini, lapangan golf PT Vale. Foto: Eko Rusdianto
Yadin Wololi (60 tahun) berjalan di lapangan golf  PT Vale
yang dulunya meruapakan lahan persawahan warga,
@2014 Eko Rusdianto 
Yadin Wololi (60 tahun), berjalan melintasi lapangan golf PT Vale. Menginjakkan kaki di rumput yang tercukur rapi. Dan tiba-tiba melambatkan langkahnya. “Ini letak kampung Dongi dulunya. Dulu rumah di sini rumah berjejer membentuk huruf L besar,” katanya.

“Di tengah kampung, ada lapangan. Di sana juga ada gereja,” lanjutnya.

Dia lalu menyebut beberapa nama orang, mungkin kerabatnya. Menunjukkan letak rumahnya. Tapi semua hanya dalam bayangan. “Ini pohon jambu monyet, saya ingat ini. Ini jambu yang di tanam di halaman rumah,” kenangnya. “Saya kira ini juga pohon mangga yang ada sejak dulu, juga kelapa itu. Ada juga rumpun bambu,”

“Nah tempat kita berdiri ini dulunya sawah. Dulu tanahnya datar, tak ada itu bukit seperti ini. Semua rata. Ini sawah kepala suku kami,”

“Kalau itu mata air. Tak pernah kering, makanya sawah selalu dapat air melimpah,

“Tahun 1950-an itu saya masih menggembalakan kerbau di sekitaran sini. Kadang-kadang membawanya minum di pinggiran danau.”

Imigran Rohingya


Kabir Ahmad memperlihatkan foto anak-anaknya.Eko Rusdianto
Apa yang dilakukan seorang ayah yang terpisah dengan anak dan istrinya di tempat pengungsian?

SENIN 27 April 2015, di sebuah wisma penampungan imigran di ujung jalan Mallombasang, Makassar, seorang warga dari Thailand duduk mengawasi anak perempuannya yang bermain. Memanjat terali pagar dan sesekali menengadahkan tangannya untuk menadah tetesan air hujan dari atap seng.

Kemudian hujan turun menderas dan membuat suara yang ribut. Anak perempuan itu menutup dua telinganya dengan tangan, lalu ayahnya mendekati, bercakap-cakap dengan bahasa Thailand. Lantas sebelum mereka meninggalkan saya, si ayah—bernama Muhammad—berkata dalam Melayu yang masih terbata-bata, “Tunggu saja. Sepertinya dia ada pergi sembahyang ke masjid. Kalau hujan reda, pasti pulang.”

Jelang pukul 5 sore ketika hujan mereda, seorang pria berbadan tegap berkulit coklat gelap berjalan menuju teras halaman wisma. Ia adalah Kabir Ahmad, imigran yang telah saya tunggu itu.

Orangnya ramah. Saat kami berjabat tangan, ia menggenggam kuat dan mengusap lengan saya. “Mari … Mari … Apa yang saya bisa bantu?” Ia mengajak saya menuju kamarnya.