28/03/20

Dunia Mantra

Lukisan dinding di Leang Jarie, Maros.
 
Kali pertama Ayub mengajaknya menemui Uwa Lai, untuk belajar mengunyah daun siri dan pinang, Hiris menolak tegas.

Itu jawaban yang sama dari neneknya. Nenek Hiris, namanya Saman, hingga akhir hayatnya percaya kematian dan penyakit adalah urusan Tuhan. Ditujukan pada seseorang yang sedang diuji. Semacam petunjuk dari rasa sayang dan cintanya pada seorang hamba.

Maka tersiarlah kabar, seorang yang selama hidup tak pernah mendapatkan penyakit adalah mahluk yang tak mendapatkan rasa cinta. Flu dan migran adalah penyakit perkecualian. Tidak termasuk ujian. Maka pada usia ke 20 tahun, Saman mendapati dirinya mengidap sagala malinrung. Dia meringkuk di kasur. Badannya seperti terbakar. Kulitnya bertumbuh bintik merah.

Dia tak boleh mandi. Tak boleh kena air. Hari ke delapan, bintik-bintik itu pecah. Mengeluarkan darah, nanah dan air. Wajahnya tak luput dari serangan, bopeng dan lubang-lubang. Pada hari ke 20, luka mengering. Meninggalkan bekas macam koreng. 

Dua bulan, Saman, tak pernah menjejakkan kakinya di tanah. Di beranda rumahnya yang tinggi, dia hanya bisa menatap beberapa orang yang berlalu menerbangkan debu dari jejak kaki. Ketika angin menyentuh kulitnya selama lima menit, dia beringsut lagi ke dalam rumah.

Kakinya mulai mengecil. Dia berjalan pincang. Sagala malinrung telah mengesahkan ujiannya dan dia mampu melewati. Pada usia 27 tahun, dia melahirkan seorang anak. Tapi setahun kemudian suaminya, meninggal dunia, dengan ujian penyakit yang sama. “Tuhan sudah mendekapnya. Dia kembali ke alam manusia sesungguhnya,” kata Saman, ketika menceritakannya pada Hiris.

Hiris mengangguk dengan baik. Pada Saman, dia belajar tentang ujian-ujian dari pemilik bumi. Dia belajar berjalan, membuka alas kaki dan menyentuh tanah, lalu menghirup aromanya. Melatih kepekaan hidungnya untuk merasai wangi padi, saat sedang mengandung.

Tahap berikutnya, Hiris sudah bertumbuh. Kendaraan roda empat membawanya menelusuri 400 kilometer yang melelahkan menuju Makassar. Berkali-kali dia, mendekap sang nenek ketika libur kuliah. Tidur bersamanya dan mencium aroma seorang lansia. Aroma langit.

Lalu pada suatu masa, orang-orang memanggil Uwa Lai. Di atas ranjang berkasur kapok, dan asap kayu bakar yang mengepul, dua orang tua itu saling memandang. Saman sudah dua malam berbaring. Nafasnya kian tersengal. Kakinya mulai dingin. Sebentar hangat, lalu kembali beku. Dadanya mulai kembang kempis. Tegukan air dari sendok sudah tak mampu di telannya. Tiba-tiba Uwa Lai mencium ubun-ubun Saman. Meniup telinga. Lalu kembali lagi mencium kening. “Malakalamau sudah datang,” kata Uwa Lai.

“Sebentar lagi. Mandappi mo - tinggal menunggu waktu tepat,”

Beberapa kerabat Saman sudah berkumpul. Di teras beberapa orang menghembuskan aroma tembakau. Menyeruput kopi dan saling berbagi cerita. Menunggu sang Saman meninggalkan dunia. Ayub, ada di barisan itu. Lalu beberapa saat kemudian, dia menjetikkan rokoknya, memantul di pohon mangga dan menimbulkan percikan api kecil.

Ruh Saman melewati Ayub. Dia berusaha memintanya berhenti namun tak berhasil. Ruh itu terus saja berlalu, melewati jalan yang membentang di depan rumah, menorobos pepohonan kakao, durian, dan menghilang dibalik tebing sungai.

Ayub berlari kecil menapaki anak tangga. Dia menuju ruang dapur, tempat Saman berbaring. “Taemi te tau – orang ini sudah meninggal,” katanya.

Uwa Lai, memeriksa sekali lagi. Dan membenarkan ucapan Ayub. Maka pecahlah tangis dalam rumah panggung itu. Saman meninggal usia 75 tahun. Ujian terakhirnya adalah stroke. Tuhan menginginkannya menghabiskan waktu selama empat tahun berbaring di kasur. Membersihkan segala macam dosa masa lalunya.

***

Kerinduan Saman akan takdir Tuhan, adalah keyakinan yang dipendamnya sejak masa gerombolan, menghampiri kampung. Mamakya, itu buyut Hiris, adalah seorang penari pa’jaga yang menawan. Perempuan penuh kewibawaan. Bapaknya, juga buyut Hiris, adalah kepala kampung yang bersahaja. Dari garis inilah mereka memiliki enam orang anak, yang kelak menjadi garis awal kehidupan Hiris.

Gerakan gerombolan itu adalah Darul Islam / Tentara Islam Indonesia (DI/TII), menginginkan kejayaan islam di tanah Sulawesi. Semua orang sama rata. Tak ada bangsawan. Semua orang disapa bung. Tetta, Daeng, Opu, Bau, adalah kesalahan.

Dewatae akhirnya murka, gerakan itu dihilangkannya dengan bantuan bala tentara negara. Satu-satu perwira kombatannya ditangkap. Pemimpinnya sendiri tertembak mati di tepi sebuah sungai. Dan perlahan, kehidupan kembali ditata. Tapi beberapa simpatisan gerakan itu tetap terus melanjutkan hidup. Mereka orang-orang yang menganggap segala hal tentang Dewatae, adalah musyirik.

Beberapa pengobatan yang menafsirkan keyakinan dalam bahasa lokal, dianggapnya menduakan Tuhan. Jadi diperbaharuinya menjadi ungkapan lafas Al-quran.

Hiris ingat salah satu mantra pemberian Saman, menggunakan bahasa arab. Dan ketika di Makassar, saat sedang bersendagurau bersama beberapa kawannya, seorang dari mereka sakit perut. Mantra syar’i pemberian Saman dilaksanakan. Dia mengangkat jempol ke dalam langit-langit mulut. Merafalkan mantra dan meniup air dalam gelas. Lalu mengusapnya di perut, dan kemudian menekan pusar. Hiris meniupnya dari arah atas ke bawah. Dan sakit perut itu berhenti.

Tapi, empat malam setelah itu, dalam keadaan letih, Hiris ikut pula mendapati kepalanya sakit. Pundaknya serasa mengangkat sekarung pupuk. Dia beringsut menyambar kunci motor. “Dokter saya sakit kepala. Rasanya mau pecah,” katanya.

Sekantong obat dan jarum suntik telah menghantamnya. Tapi kepala semakin berat. Dia kembali ke kampung halaman. Dia menuju rumah Uwa Lai, rumah yang di depannya ada pekuburan umum, tempat Saman dimakamkan. Uwa Lai, sudah berusia 102 tahun. Di ruang tengah rumahnya yang adem dengan atap daun sagu, Hiris melepaskan kaos hitam Hard Rock yang dikenakannya.

Uwa Lai, duduk menekuk lututnya di lantai. Ada daun sirih tammu ura’ di genggamannya. Daun itu lekatnnya ke punggung Hiris. Sirih hijau dan segar itu dalam beberapa detik mengering. “Kau kena pa’dau,” Uwa Lai berucap.

“Ini memang tidak na dapat dokter,” lanjutnya.
Maka perlahan, sirih, pinang, kapur, kunyit, dan satu bahan rahasia dikunyahnya. Ramuan itu diuleknya dalam rahang tua. Lalu dengan cekatan, di semburkannya ke pundak, kening dan dada. Ramuan yang menempel itu menjadi hitam dan hangus. Tapi rasanya sangat dingin. Seperti kau menggunakan koyok, sensasi mintnya menembus kulit.

Keesokannya, semburan bahan yang sama dilakukan lagi. Sudah tak hangus. Warnanya sudah merah darah. Dan kepala Hiris pun sudah tak lagi puyeng. Dia hampir tak bisa lagi mengingat rasa sakit kepala yang di deritanya selama beberapa hari.

Hiris membakar rokoknya di sudut teras rumah. Kepalanya bekerja kuat. Baginya berobat menggunakan dukun adalah kesalahan. Seharunsya apa yang dilakukannya haruslah berserah pada dewata. Kehendak pemberi kehidupan. Harusnya dia meringkuk saja, dan menunggu malakalamau datang.

“Tapi ini hanya sakit kepala,” katanya dalam hati.

“Bukan sagala, bukan stroke, bukan kelumpuhan,”

“Sakit kepala, bukan lah ujian dewata. Ini terlalu murahan.”



_________________________  

*sagala malindrung ; cacar api

*malakalamau ; malaikat pencabut nyawa

*dewata suwae ; dewa tertinggi

*Sirih Tammu ura ; sirih yang akarnya bertemu

*padau ; penyakit sakit kepala yang tembus hingga ke punggung



15/03/20

Kumbang dan Calon Istrinya

 DIKISAHKAN, sebelum manusia diturunkan dari langit, di Tanah Luwu terdapat sebuah kampung binatang. Di antara penduduk kampung itu, terdapat seekor kumbang yang tampan lagi kaya.
Lahan pertaniannya luas. Sang kumbang adalah teladan binatang yang mau bekerja keras. Tiada hari dilewatkannya tanpa mengolah lahan, mencangkul, menanam, dan menyiram tanaman. Melihat ketampanan dan kekayaan si Kumbang, banyak gadis yang jatuh cinta. Yang paling bersemangat adalah si Udang dan Bekicot. Udang dan Bekicot adalah remaja putri paling jelita di kampung binatang masa itu.
Suatu hari, si Udang dan si Bekicot terlibat pertengkaran. Mereka saling cemburu. Untunglah si Kumbang melihatnya. Maka dia pun melerai mereka dan memberikan syarat bagi siapa pun yang mau menjadi calon istrinya.
“Besok pagi-pagi buta aku akan bekerja di kebun. Banyak pekerjaan yang akan kulakukan. Aku pasti akan kelelahan. Siapa di antara kalian yang paling tepat waktu membawa sarapan untukku, akan kujadikan istri,” kata si Kumbang.
“Makanan apakah yang harus disajikan,” tanya si Udang. “Itu tidak penting, yang  penting enak dan tepat waktu.” Maka bergegaslah si Udang dan si Bekicot ke rumah masing-masing untuk menyiapkan diri.
Sementara si Kumbang, di rumahnya, sibuk menimbang-nimbang siapakah di antara Udang dan Bekicot yang pantas menjadi istrinya. Si Udang gesit dan cekatan, namun suka teledor. Keselamatan dan kenyamanan bekerja tak begitu diperhatikannya. Si Bekicot bekerja sangat lambat, pemilih, dan amat hati-hati. Namun semua pekerjaan dilakukan dengan sangat teliti.
“Ah, mereka sebenarnya adalah calon-calon istri yang saling melengkapi. Betapa bahagianya jika aku bisa menikahi keduanya,” kata si Kumbang dalam hatinya. Malam itu si Kumbang sulit memejamkan mata. Gagasan memiliki istri dua benar-benar dia anggap sebagai ide yang cemerlang.
Namun ketika si Kumbang tengah asyik dengan pikirannya sendiri, suara kokok ayam telah terdengar. Dia harus segera pergi ke kebun. ”Inilah hari untuk mewujudkan gagasanku yang cemerlang,” kata si Kumbang berbunga-bunga.
Pagi-pagi betul si Udang sudah siap dengan bakul penuh makanan masih mengepul.  “Bekicot tidak bakal mengalahkanku. Sebentar lagi aku akan menjadi istri si Kumbang,” kata si Udang. Bakul penuh masakan masih panas itu disungginya di atas kepala.
Ketika melewati rumah Bekicot, si Udang menyapa Bekicot yang tampak masih enak-enakan duduk di teras rumah. “Makananmu sudah jadikah Bekicot?” tanya Udang.
“Sudah. Tapi tunggu biar dingin dulu,” jawabnya.
“Ah, kalau begitu aku duluan.”
“Heh Udang, nasi yang kau bawa di atas kepalamu itu masih panas. hati-hati, nanti kau bisa masak terpanggang di tengah jalan!” kata Bekicot memperingatkan.
“Ah, tenang saja,” jawab Udang.
Ketika matahari mulai muncul dari balik bukit di depan rumah Bekicot, dia baru mulai membungkus makanan. Dengan perlahan dia  menyungginya di atas kepala menuju kebun si Kumbang. “Ah, sepertinya saya tidak bakal menang. Tapi biarlah, lebih baik makanan ini dibawa saja untuk Kumbang,” kata si Bekicot sambil berjalan perlahan.
Namun alangkah senangnya Bekicot ketika dari kejauhan tampak si Kumbang masih bekerja. Dia yakin Udang belum menemui si Kumbang.
Tiba-tiba, ketika melewati sebuah belokan, Bekicot menemukan si Udang sudah mengering karena terpanggang makanan panas yang disungginya. Melihat jasad si Udang yang sudah memerah itu, Bekicot pun menangis tersedu-sedu.
Tanpa disadari, airmatanya meleleh begitu banyak. Hidungnya dipenuhi cairan ingus. Langsung saja suaranya hilang, karena semua lendir di dalam tubuhnya keluar. Maka ia pun meninggal.
Menjelang tengah hari, si Kumbang telah merasa kelaparan. Sementara si Udang dan Bekicot belum juga datang. Dia merasa kecewa. Akhirnya dia memutuskan pulang ke rumah. Maka alangkah terkejutnya pula dia ketika di tengah jalan menemukan si Udang dan si Bekicot yang sudah menjadi mayat.
Kumbang pun menangis meraung-raung. Dia berusaha mengangkat jasad dua calon istrinya itu. Maka dia perkuat tali ikatan celananya. Namun saking kuatnya, ikatan itu justru memutuskan pangkal perut si Kumbang. Dan matilah pula si Kumbang.

14/03/20

Batu Tikumba-kumba



*Bermula, dari nenek, cerita ini dikisahkannya sebelum kami tidur. Entah berapa kali, tapi tetap saja saya suka mendengarnya. Hingga pada 2012, saya menulisnya untuk keperluan publikasi di Luwu Timur. Bagi saya kisah ini sungguh menawan. Menceritakan kesalahan orang tua pada anaknya. Bukan tentang anak yang selalu durhaka pada orang tua. Selamat membaca. 

ALKISAH, di Negeri Luwu tinggallah seorang ibu dengan anak perempuannya. Mereka hidup dalam kemiskinan. Rumah mereka hanya sebuah gubuk kecil beratapkan rumbia dengan satu kamar tidur.

Namun orang-orang sekampung selalu menjadikan mereka sebagai teladan kerukunan hubungan ibu dan anak. Setiap pagi buta sang ibu berangkat ke kebun peninggalan suaminya yang sudah meninggal. Sang anak menyiapkan makanan. Kadang mereka hanya makan nasi dengan rebusan daun singkong yang digarami.

Meski demikian keduanya tetap tabah menghadapi hidup dan tidak pernah mengeluh. Ketika sang anak tumbuh menjadi seorang gadis cantik, tabiat sang ibu tiba-tiba berubah. Dia menjadi suka marah-marah. Sang anak tak tahu apa penyebabnya. Padahal dia juga mulai membantu sang ibu di kebun.

Pada suatu pagi yang cerah, dalam perjalanan ke kebun menyusul ibu nya, sang anak bertemu seorang bapak tua. Orang tua itu mengata kan bahwa gadis itu bukanlah anak kandung sang ibu. Dia hanya anak pungut yang ditemukan di hutan di belakang rumah. Mendengar penu turan itu, pecahlah tangis sang anak.

Sambil menangis tersedu-sedu sang anak berlari menuju kebun di mana sang ibu sedang bekerja. Namun sampai di sana air matanya sudah kering. “Kenapa kau terlambat. Dasar anak pemalas, sekarang ambil cangkul dan mulailah mengolah tanah. Jangan berhenti hingga siang nanti,” hardik ibunya.

Belum cukup, sang ibu tiba-tiba melemparkan seonggok tanah ke punggung si anak. “Jangan loyo. Mencangkul itu harus kuat,” perintah sang ibu. Tengah hari, karena merasa sudah capek, sang ibu hendak pulang.

Usai  meneguk air dari botol bambu yang ujungnya disumbat daun pisang, dia berkata kepada sang anak, “Jangan berhenti sebelum pekerjaan itu selesai. Besok aku mau menanam sayur. Paham?!” ”Iya, Bu,” jawab sang anak yang sudah letih. Menjelang sore hari, sang anak kembali ke rumah.

Namun ketika dia hendak makan, ternyata hanya ada rebusan daun singkong. Tak ada lagi nasi tersisa untuknya. Meski demikian sang anak diam saja.  Selesai makan, sang anak menceritakan pertemuannya dengan si bapak tua. Sontak, ibunya langsung marah.

“Kalau memang itu benar kenapa? Aku yang membesarkanmu sampai sekarang. Aku juga tidak tahu di mana orangtuamu. Jadi kau harus bersyukur masih kuberi tempat tinggal,” kata ibunya.

“Ibu, kalaupun saya bukan anakmu, saya sudah menganggapmu sebagai ibu kandung. Aku hanya menceritakan apa yang kualami,” kata anak perempuan itu memelas. Sambil menunduk ia meneteskan air mata.

Setelah hari itu, kehidupan mereka tak lagi rukun. Tiap kali sang anak telat menanak nasi, sang ibu langsung  memukulnya. Pernah kepala sang anak sampai mengeluarkan darah. Puncaknya, suatu hari sang ibu mengusir sang anak.

”Ibu, kasihanilah saya. Saya tidak tahu harus pergi ke mana. Ibulah satu-satunya keluarga saya,” kata anaknya. “Engkau memang anak durhaka, tak tahu diuntung. Terkutuklah engkau. Saya bukan ibumu,” jawab ibunya.

Kini sang anak tidak lagi tidur di kamar, melainkan di teras rumah. Tanpa bantal tanpa selimut. Maka setiap malam anak itu kedinginan dan kemudian jatuh sakit. Namun sang ibu tetap saja menyuruh sang anak bekerja seperti biasa. Suatu sore, ketika sang anak baru saja menyalakan api di tungku untuk menanak nasi, ibunya datang dari kebun. Ibunya marah besar melihat makanan belum siap. 

Dia tidak tahu bahwa anaknya sedang sakit. Segera saja dirampasnya sendok nasi dari tangan sang anak dan dipukulkannya ke kepala sang anak. Darah mengucur. Karena tak tahan, sang anak berlari ke luar rumah.

Sang anak berlari dan terus berlari hingga sampai di tepian sungai yang penuh batu-batu besar. Dia menangis terisak-isak. Tiba-tiba sebuah batu besar di hadapannya terbuka lebar. Batu itu berbicara dan meminta sang anak untuk masuk ke dalamnya.

”Masuklah ke dalam perutku agar penderitaanmu berakhir, Nak” kata si batu. Di rumah, entah teringat  apa, sang ibu menyesali seluruh perbuatannya selama ini. Maka dia pun segera berlari menyusul sang anak.

“Anakku, anakku. Maafkan ibu,” katanya. Melihat ibunya datang, sang anak malah semakin ketakutan.

“Segeralah masuklah ke dalam perutku wahai anakku,” kata batu itu lagi.

Akhirnya sang anak melompat ke dalam batu. Sang ibu pun berteriak, ”Jangan anakku, jangan. Maafkan ibu,” teriaknya.

Sang ibu kemudian berusaha melompat ke arah batu itu menyusul sang anak. Tapi sayang, batu itu sudah menutup dirinya. Di permukaan batu hanya terlihat rambut sang anak yang panjang dan hitam. Sang ibu berusaha keras menarik-narik rambut itu namun gagal. Dia tendang-tendang batu tersebut, namun tetap saja si batu tak mau membuka.

Akhirnya sang ibu hanya bisa menangis meraung-raung. Berhari-hari hari dia tidak makan dan tidak minum. Sepanjang hari dia hanya memeluk batu itu dan menciumi rambut anaknya. Sambil meratap sang ibu bernyanyi: “Ohhh, batu, batu tikumba-kumba mako mae—ohh, batu, batu terbukalah.”

Demikianlah, akhirnya sang ibu meninggal akibat duka dan penyesalan yang mendalam.