15/03/20

Kumbang dan Calon Istrinya

 DIKISAHKAN, sebelum manusia diturunkan dari langit, di Tanah Luwu terdapat sebuah kampung binatang. Di antara penduduk kampung itu, terdapat seekor kumbang yang tampan lagi kaya.
Lahan pertaniannya luas. Sang kumbang adalah teladan binatang yang mau bekerja keras. Tiada hari dilewatkannya tanpa mengolah lahan, mencangkul, menanam, dan menyiram tanaman. Melihat ketampanan dan kekayaan si Kumbang, banyak gadis yang jatuh cinta. Yang paling bersemangat adalah si Udang dan Bekicot. Udang dan Bekicot adalah remaja putri paling jelita di kampung binatang masa itu.
Suatu hari, si Udang dan si Bekicot terlibat pertengkaran. Mereka saling cemburu. Untunglah si Kumbang melihatnya. Maka dia pun melerai mereka dan memberikan syarat bagi siapa pun yang mau menjadi calon istrinya.
“Besok pagi-pagi buta aku akan bekerja di kebun. Banyak pekerjaan yang akan kulakukan. Aku pasti akan kelelahan. Siapa di antara kalian yang paling tepat waktu membawa sarapan untukku, akan kujadikan istri,” kata si Kumbang.
“Makanan apakah yang harus disajikan,” tanya si Udang. “Itu tidak penting, yang  penting enak dan tepat waktu.” Maka bergegaslah si Udang dan si Bekicot ke rumah masing-masing untuk menyiapkan diri.
Sementara si Kumbang, di rumahnya, sibuk menimbang-nimbang siapakah di antara Udang dan Bekicot yang pantas menjadi istrinya. Si Udang gesit dan cekatan, namun suka teledor. Keselamatan dan kenyamanan bekerja tak begitu diperhatikannya. Si Bekicot bekerja sangat lambat, pemilih, dan amat hati-hati. Namun semua pekerjaan dilakukan dengan sangat teliti.
“Ah, mereka sebenarnya adalah calon-calon istri yang saling melengkapi. Betapa bahagianya jika aku bisa menikahi keduanya,” kata si Kumbang dalam hatinya. Malam itu si Kumbang sulit memejamkan mata. Gagasan memiliki istri dua benar-benar dia anggap sebagai ide yang cemerlang.
Namun ketika si Kumbang tengah asyik dengan pikirannya sendiri, suara kokok ayam telah terdengar. Dia harus segera pergi ke kebun. ”Inilah hari untuk mewujudkan gagasanku yang cemerlang,” kata si Kumbang berbunga-bunga.
Pagi-pagi betul si Udang sudah siap dengan bakul penuh makanan masih mengepul.  “Bekicot tidak bakal mengalahkanku. Sebentar lagi aku akan menjadi istri si Kumbang,” kata si Udang. Bakul penuh masakan masih panas itu disungginya di atas kepala.
Ketika melewati rumah Bekicot, si Udang menyapa Bekicot yang tampak masih enak-enakan duduk di teras rumah. “Makananmu sudah jadikah Bekicot?” tanya Udang.
“Sudah. Tapi tunggu biar dingin dulu,” jawabnya.
“Ah, kalau begitu aku duluan.”
“Heh Udang, nasi yang kau bawa di atas kepalamu itu masih panas. hati-hati, nanti kau bisa masak terpanggang di tengah jalan!” kata Bekicot memperingatkan.
“Ah, tenang saja,” jawab Udang.
Ketika matahari mulai muncul dari balik bukit di depan rumah Bekicot, dia baru mulai membungkus makanan. Dengan perlahan dia  menyungginya di atas kepala menuju kebun si Kumbang. “Ah, sepertinya saya tidak bakal menang. Tapi biarlah, lebih baik makanan ini dibawa saja untuk Kumbang,” kata si Bekicot sambil berjalan perlahan.
Namun alangkah senangnya Bekicot ketika dari kejauhan tampak si Kumbang masih bekerja. Dia yakin Udang belum menemui si Kumbang.
Tiba-tiba, ketika melewati sebuah belokan, Bekicot menemukan si Udang sudah mengering karena terpanggang makanan panas yang disungginya. Melihat jasad si Udang yang sudah memerah itu, Bekicot pun menangis tersedu-sedu.
Tanpa disadari, airmatanya meleleh begitu banyak. Hidungnya dipenuhi cairan ingus. Langsung saja suaranya hilang, karena semua lendir di dalam tubuhnya keluar. Maka ia pun meninggal.
Menjelang tengah hari, si Kumbang telah merasa kelaparan. Sementara si Udang dan Bekicot belum juga datang. Dia merasa kecewa. Akhirnya dia memutuskan pulang ke rumah. Maka alangkah terkejutnya pula dia ketika di tengah jalan menemukan si Udang dan si Bekicot yang sudah menjadi mayat.
Kumbang pun menangis meraung-raung. Dia berusaha mengangkat jasad dua calon istrinya itu. Maka dia perkuat tali ikatan celananya. Namun saking kuatnya, ikatan itu justru memutuskan pangkal perut si Kumbang. Dan matilah pula si Kumbang.